Directed by Debra Granik; Produced by Michael Bloom, Jason Cloth, Aaron L. Gilbert, Anne Harrison, Anjay Nagpa ; Writing credits Debra Granik, Anne Rosellini ; Starring Thomasin McKenzie, Ben Foster, Jeffery Rifflard ; Cinematography Michael McDonough ; Runtime 109 minutes ; Country USA ; Language English ;

Tom: ”I don’t have the same problem you have.”

leave no trace

Storyline

Will (Ben Foster), yang merupakan seorang veteran Perang Irak, tinggal bersama putrinya yang berusia tiga belas tahun, Tom (Thomasin McKenzie), di sebuah taman kota yang luas di Portland. Karena penyakit PTSD yang dideritanya, Will sangat menjauhi kehidupan social dan juga ingin menjauhkan putrinya, Tom dari kehidupan luar yang tidak bisa diprediksi.

Review

Nilai 100% di Rotten Tomato bukan tanpa alasan, Debra Granik sekali lagi dengan tangan dinginnya mengubah cerita asli dari buku berjudul “My Abandonment” ini menjadi sebuah tontonan yang menyentuh dan penuh perasaan. Granik juga bukan sutradara sembarangan, ia pernah memboyong Director’s Award for Vision and Talent di Festival Film Athena, dan menerima penghargaan Prix du jury di Festival Film Amerika Deauville untuk film Winter’s Bone, dan ini adalah film pertama Debra Granik setelah Winter’s Bone yang rilis pada 2010 lalu. Film yang mengantarkan Jennifer Lawrence mendapatkan nominasi Oscar pertamanya.

Leave No Trace disampaikan oleh Granik dengan cara yang sederhana dan sunyi. Dengan dialog yang sangat minim, akting brilian dari Ben Foster dan pendatang baru Thomasin McKenzie yang pandai membuat ekspresi wajah membuat cara bercerita Leave No Trace ini jadi lebih menyentuh.

Babak pertama film ini dimulai dengan latar hutan belantara dipenuhi pohon dengan dedaunannya yang dipenuhi embun dan berlumut yang ternyata diketahui hutan itu adalah sebuah taman yang sangat luas di Portland, Oregon. Will dan putrinya Tom terlihat sedang memotong kayu, lalu bermain catur dan memasak jamur, di rumah buatannya yang dikelilingi oleh daun-daun, dan beratapkan terpal. Dengan pengambilan gambar hutan yang membuat mata segar ini, scene ini terlihat sangat menarik sambil membuat penonton bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan oleh Will dan anaknya.

 

leave no trace

10 menit pertama yang dibuka hampir tanpa dialog ini justru bercerita secara lugas tentang rutinitas Will dan Tom yang sangat monoton. Tom dibesarkan Will dengan cara seperti ini, hampir tidak ada perbincangan intim selayaknya ayah dan anak, dan Tom pun tidak pernah sekolah. Tom dididik hingga remaja oleh Will seorang diri.

Menonton film ini, kita jadi tahu ada penyakit yang namaya PTSD. Biasanya diidap oleh seorang veteran perang, dan juga hasil imbas dari kurangnya pemerintah Amerika dalam membina prajurit pasca perang. Jika kita tidak tahu Will punya penyakit itu, kita bisa menganggap Tom adalah korban dari seorang ayah yang egois dan antisosial.

Tom pada akhirnya juga hanya seorang remaja biasa yang masih mudah dipengaruhi oleh dunia luar. Otoritas yang akhirnya harus membuat Tom masuk ke sekolah umum, akhirnya menyadarkan Tom jika selama ini ternyata dibesarkan dengan cara yang salah oleh ayahnya. Dan ia dengan berat hati harus meninggalkan ayahnya demi keinginannya untuk tinggal dengan rasa aman di dalam lingkungan yang hangat.

Meski kadang terasa lambat untuk diikuti, Leave No Trace ini berhasil meninggalkan ruang untuk penonton agar bisa merenungi isi pikiran Tom dan Will saat menjalankan rutinitasnya. Disisi lain kita juga bisa mengetahui realitas kehidupan yang lain yang belum pernah kita ketahui sebelumnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.